Berita Blog Desain Konstruksi

Intip Rahasia Rumah Tahan Gempa Negara Jepang

Rumah Tahan Gempa

Sudah menjadi pembicaraan umum bahwa negara Jepang memiliki daya tahan yang sangat kuat untuk bencana skala besar. Dengan alam yang begitu indah, peristiwa bencana seperti gempa, tsunami, dan badai sesungguhnya telah lama menjadi risiko yang bisa diterima (acceptable risk) dalam kehidupan masyarakat Jepang. Demikian juga dengan arsitektur bangunannya.

Indonesia perlu belajar dari Jepang, terutama bangunan di kota besar. Namun bukan berarti semua bangunan di Indonesia rentan akan gempa. Banyak penelitian telah dilakukan untuk menemukan kembali rahasia ketahanan gempa dari bangunan- bangunan ini. Salah satu contoh awal dari adaptasi arsitektur Cina di Jepang terhadap seringnya gempa, adalah modifikasi balok tumpuk,  dalam Bahasa Jepang disebut to-kyou atau di ujung atas tiang.

Meskipun tampak tidak praktis, sambungan ini rupanya sangat fleksibel dibandingkan sambungan langsung balok-tiang yang sering digunakan dalam bangunan-bangunan kayu modern, karena kekakuannya umumnya akan mengalami pecah ujung (end splitting) saat terjadinya gempa. Berkat berat dari  to-kyou ini juga berfungsi mengembalikan posisi tiang yang miring akibat gempa (restorable inclination). 

Contoh menakjubkan dari adaptasi arsitektur Jepang terhadap alam ini bisa dilihat pada bangunan menara kuil yang terbuat seluruhnya dari kayu, dan terkadang bisa memiliki tinggi lebih dari 32 meter. Menara yang tertua, menara kuil Horyu-ji di Nara, berasal dari abad VII M.

Kyoto memiliki beberapa menara tertinggi di Jepang, seperti menara kuil To-ji dan menara kuil Yasaka, keduanya memiliki tinggi di atas 30 meter. Semua menara ini menggunakan prinsip konstruksi dan bentuk arsitektur yang sama. Di tengah menara biasanya terdapat satu tiang yang terbuat dari kayu utuh yang ditanam ke tanah atau pondasi batu dan diperkuat dengan rantai.

Di sekeliling tiang ini dibangun sejumlah tingkat menara yang sebenarnya terlepas satu sama lain. Pada saat gempa, tingkat- tingkat menara ini akan bergeser satu di atas yang lain, dan menahan tiang utama agar tidak bergoyang terlalu jauh.

Lantai paling atas, yang tertanam secara kaku dengan tiang utama dan memiliki berat paling besar, akan berperan melawan arah goyangan (tuned mass-damper effect).

Secara umum, dalam hal ketahanan gempa, teknologi konstruksi tradisional Jepang dapat dibilang mengambil pendekatan yang berseberangan dengan arsitektur modern, bukannya melawan gempa dengan memperkuat kekakuan bangunan, bangunan tradisional justru mengandalkan kelenturan sambungan antar bagian bangunan untuk meredam energi gempa.

Dalam banyak kasus, pendekatan ini terbukti lebih berhasil; bahkan prinsip-prinsip di atas akhir-akhir ini baru saja diterapkan kembali pada sejumlah bangunan termutakhir.  Prinsip dasar konstruksi rumah tahan gempa di Jepang adalah penggunaan material kayu dan memiliki kekuatan tarik, meredam dampak gempa bumi, sistem bongkar pasang (knock down), pengerjaan yg lebih presisi dengan perencanaan di pabrikasi, serta perencanaan menggunakan prinsip modul, panjang modul 91 – 100 m. 

Salah satu rumah tahan gempa di Jepang yang didirikan di tahun 2016 yaitu Hat House karya Apollo Architects. Rumah tahan gempa ini memiliki struktur berbentuk kubus dengan dinding beton bertulang tebal serta atap berbingkai kayu yang lebih tradisional.

Shinsuke Fujii juga merancang sebuah rumah tahan gempa yang siap menghadapi bencana. Di rumah ini, ia merancang rak buku yang menjulang penuh dari lantai hingga ceiling. Tampak dari fasad rumah pun, rak buku ini dirancang miring, sehingga goncangan dari bencana alam tidak akan merubuhkan seisi rumah.

Sedikit membahas tentang sejarah di tempo dulu . Rumah-rumah Jepang di era prasejarah (dikenal dengan era Jomon dan Yayoi) hingga abad ke-2 SM umumnya berupa bangunan sederhana, dengan lantai dan dinding dari tanah liat serta beratap jerami, yang teradaptasi dengan baik terhadap peristiwa alam seperti gempa dan taifun.

Hanya setelah mereka mengenal tata cara penanaman padi dari Cina-lah, bangunan-bangunan monumental untuk kepentingan komunitas dan agama mulai dibangun. Baru pada abad VIII, arsitektur monumental di Jepang mulai melakukan adaptasi terhadap kondisi alam. Sejumlah kuil Buddha yang terletak di hutan pinggiran kota, mengatur tata letak serta menyesuaikan bentuk dan ukuran bangunannya agar sesuai dengan lokasi yang bergunung-gunung. 

Beberapa contoh misalnya Museum de Young di San Francisco – California karya perancang Herzog & de Meuron, menerapkan prinsip base isolation. Prinsip tuned mass-damper ini digunakan pada bangunan landmark Burj Al-Arab di Dubai, serta Taipei 101 yang merupakan bangunan tertinggi di dunia pada tahun 2004 sebelum dibangun Menara Burj Al-Khalifa pada tahun 2010 di Dubai.

Yang membanggakan, prinsip-prinsip ini sebenarnya telah lama ditemukan para pendeta Buddha dan Shinto di Jepang pada abad VII – XI M, hanya melalui intuisi dan perenungan terhadap alam.

Sumber : Google

Related posts

Perbandingan Atap Kayu dengan Baja Ringan

Rizal

Beda Teknik Sipil Arsitektur, Apa Saja?

Nasuha

Atap Bentang Lebar; Magna System Solusinya

Nasuha

Leave a Comment

Hubungi Kami